Good Morning Venezia!

Backpacking terakhir dari rangkaian eurotrip kami. Dengan sisa-sisa tenaga Alhamdulillah kesampaian menikmati ice cream gelato di Roma, menegakan menara miring di Pisa dan terakhir menapakkan kaki di salah satu kota impian saya  sebelum tenggelam, the water city, Venezia!

Denyut kota Venezia di pagi buta, sebelum para turis bangun dan memenuhi setiap sudut ruang di museum, antri di depan St.Mark cathedral dan berfoto ria dengan burung2 merpati di Piazza san marco ataupun memenuhi kanal-kanal dengan perahu gondolanya, itulah pengalaman yang ingin saya abadikan…

good morning venezia! preparing the gondola at Piazza san marco pier

good morning venezia! preparing the gondola at Piazza san marco pier

sudut kota venice yang tua renta

sudut kota venice dengan lorong dan bangunan tua

bagi saya kota Venezia seperti seorang nyonya tua yang renta namum masih menampakan sisa-sisa kecantikan masa mudanya. Brosur2 wisata senantiasa menjual foto2 kota venice yang romantis dengan parahu gondola, kanal dan bangunan2 indah bergaya renaissance yang berdiri megah di sekeliling Piazza san Marco. Namun, dilihat dari dekat, kota ini sangat rapuh, hampir sebagian besar bangunan sudah lusuh, keropos oleh air laut dan termakan usia, namun Venezia tetap menyimpan magnet dan cerita bagi ribuan turis yang terus membanjir setiap harinya.

Sore itu, 25 June 2012 kereta cepat Trenitalia dari kota Florence membawa kami berlima menginjakan kaki di station Santa Lucia, sengaja sebelumnya kami putuskan untuk memilih menginap di kota ini selama 2 malam untuk bisa merasakan denyut nadi kehidupan penduduk lokal yang samar-samar berdetak di tengah hiruk pikuk kunjungan para turis. Rata-rata flashtraveler memilih menginap di Maestre yang berada di daratan italia dan mengambil a day trip ke venezia supaya bisa lebih hemat. Berhubung berlima, kami akhirnya bisa mendapatkan sebuah apartemen untuk disewa di dekat Rialto bridge, keuntunganya ada kitchen sehingga bisa belanja serta masak spagetti dan risotto sendiri ^^ dan yang asyik ternyata apartemen kami memiliki rooftop terrace yang bisa dipake buat duduk2 pas sarapan pagi.

rooftop apartment

homemade spaghetti n ‘ rooftop apartment

Sudah lama saya dengar, warga asli kota venice banyak yang pindah ke daratan italia untuk bekerja maupun karena kota kecil ini sudah terlalu crowded oleh turis. Banyak rumah2 tinggal yang akhirnya dijadikan apartemen untuk disewakan, letakknya umumnya di lantai 2 dari bangunan dan tanpa guide dari si pemilik bangunan mustahil bagi kami untuk bisa menemukannya di tengah labirin jalan-jalan yang sempit dan remang2 terkena sorot matahari.

Inside venice! squeezing in between walls

Inside venice! squeezing in between walls

sebagai salah satu pedestrian city, semua aktivitas di venice dilakukan dengan jalan kaki melewati gang-gang sempit dan puluhan jembatan…memegang peta di tangan adalah sebuah keharusan, kecuali anda senang kesasar dan muter-muter ga jelas ;D. Icon-icon utama yang perlu diingat untuk menjadi orientasi dan Landmark kawasan antara lain Rialto  Bridge, Station Santa Lucia dan Piazza San Marco bisa membantu mengurangi memungkinan tersesat, but don’t worry that’s part of the story…

water bus  - Pavoritti

water bus – Vaporetto

Selain jalan kaki, pilihan yang cukup efisien untuk backpacker adalah naik water bus atau Vaporetto menelusuri Grand Canal dan menyeberang ke pulau-pulau kecil di sekitar venice yang worth to visit seperti Burano, Murano dan Lido. Untuk menghemat belilah tiket 12 hrs seharga 18 euro atau 24hrs for 20 euro, soalnya single trip point to point cukup mahal yakni 7 euro!

early morning in Venice

drop off barang – early morning at canal

early morning at Piazza san marco

early morning at Piazza san marco

Untuk menghindari turis yang terlalu banyak muncul di jepretan foto2 saya dan yang utama to feel the everyday life of the city saya memutuskan bangun lebih awal dan memulai berjalan kaki mengelili kota venice pada jam 6 pagi, ketika warga lokal mulai siap-siap membuka toko dan mengelar kereta dagangannya, petugas kebersihan sibuk menyapu jalanan, membuang sampah…stok2 makanan dan minuman dibawa dengan perahu motor melalui kanal untuk disupply ke restoran, hotel, dan toko2, tukang gondola sibuk mempersiapkan perahunya di dermaga dan ketika terdengar sapaan dipagi hari…Ciao Maria!

DSC_0745

Ketika matahari sudah beranjak tinggi kami berpindah meninggalkan pulau venice… menaiki Pavarotti dari depan St.Lucia menuju Murano yang terkenal dengan pembutan kerajinan dari gelas yang berwarna-warni dan juga pulau kecil di sebelah timur bernama Burano yang dulunya merupakan kampung nelayan kini telah menjadi atraksi wisata dengan deretan bangunan yang dicat warna-warni serta pot bunga yang berjejer di jendela.

Glassmaking at Murano

Glassmaking at Murano

Colourful buildings, Burano

Colourful buildings, Burano

Di pulau Burano meskipun tidak lepas dr kunjungan para turis, namun masih banyak penduduk lokal yang bermukim disana. Setiap rumah tinggal biasanya terdapat jemuran baju di depan jendela maupun halaman rumah dan juga di pintu depan rumah semuanya memiliki sejenis gordin penutup pintu untuk menjaga privasi. Beberapa rumah juga ada yang sudah berubah menjadi toko2 souvenir dan restoran/cafe menyajikan masakan khas italia.

Deretan pintu rumah dengan kain gordin di Burano

Deretan pintu rumah yang ditutup kain gordin di Burano

Jalan-jalan hari ke-2 saya coba meng-capture kondisi kota venice yang dipenuh turis, dan tentu saja turut merasakan antrian memasuki St.Mark Cathedral (free entry) dan menaiki satu2nya menara tertinggi disana ‘Bell Tower” (entry 8 euro) untuk mengabadikan aerial view dari kota air nan eksotis ini.

tourist crowd at Rialto Bridge (afternoon)

tourist crowd at Rialto Bridge (afternoon)

'Campanile - Bell Tower ' salah satu hobi saya manjat setiap menara/bangunan tertinggi di setiap kota yg dikunjungi

‘Campanile – Bell Tower ‘ salah satu hobi saya manjat setiap menara/bangunan tertinggi di setiap kota yg dikunjungi

Aerial view of Venice

Aerial view of Venice

Backpacking kami di Itali berakhir pada 27 June, sore hari dengan menggunakan bus dari terminal Piazzale Roma berangkat menuju airport Treviso (travel time 1 hour) pulang ke Belanda (schiphol airport) dengan menggunakan budget airlines Transavia. Terminal bus Piazzale Roma terletak disamping station kereta St.Lucia, dihubungkan dengan jembatan modern karya arsitek terkenal Santiago Calatrava, jembatan yang berada di atas Grand Canal ini dinamakan Ponte della Costituzione.

Bus terminal Piazzale Roma with Calatrava Bridge

Bus terminal Piazzale Roma with Calatrava Bridge


Restoran halal di Melbourne

Kalau jalan-jalan ke kota Melbourne tdk perlu bingung cari makanan/restoran halal, karena orang Indonesia/asia tenggara-nya cukup banyak plus imigran2 dr timur tengah, turki dan India. Variasi makanan tersedia lengkap dari restoran Indonesia yg jual sop buntut, rendang dll sampai restoran italia yg jual steak lezat. Bisa jadi culinary tour masuk dlm itinerary selama kunjungan, why not ;-)
image

Berikut list restoran2 halal yang pernah sy coba dalam kurun waktu 2 thn (2007-2009):

1. Restoran Nelayan (Indonesian food), paling gampang ditemukan krn letaknya yg strategis di pusat kota, swanston street seberang QV building. Saya paling suka sop buntut dan rendangnya.

2. Es Teller 77 (Indonesian food)
Lokasinya juga di swanston street, satu deret dgn Nelayan. Cabang satunya ada di Cardigan street, Carlton dekat dgn Melbourne Uni. Kalo lg pengen bakso ato kwietiaw seafood saya selalu kesini :-)

3. Sawasdee Thai Resto (Thai food)
Ini Restoran fine dining favorite saya khususnya makanan2 seafood khas thailand, apalagi kalo kepiting gede-nya lagi diskon!!! Meskipun serve minuman beralkohol namun daging dan ayam disupply dr halal butcher. Reservasi in advance is required. Lokasinya juga di city tapi agak nyempil di lantai 2, tepatnya di 1/139 little bourke street, daerah chinatown. sawasdee Thai resto

4. Alamaro restaurant
Terletak di 1/114 Bell street, Coburg, dari city (elizabeth street) bs naik tram 19 turun di stop 34 (perempatan lampu merah belok kiri). Steak dgn saus avocado-nya top banget plus dessert ice cream. Satu porsi steak dulu sekitar AUD$20. Restoran ini agak jarang buka, dr 5x telpon utk reservasi baru 2x berhasil mencicipi kelezatannya. Sila cek website http://www.alamaro.com.au

5. Nando’s chicken
Untuk katagori restoran cepat saji setahu saya semua supply ayam di restoran Nando’s seluruh Australia halal, cuma ada beberapa restoran yg menu-nya jg menyajikan becon. Untuk di Melbourne, saya biasa makan Nando’s yang di southgate yarra river dan Sydney rd (tram 19). Nando’s terkenal dengan grilled chicken n sambal peri-peri pedas-khas portugis-nya.

6. Norsiah kitchen
Restoran yg menyajikan masakan khas malaysia dan singapore. Lumayan murah karena dkt dgn kampus unimelb di swanston street. Menu makan siang favorit saya take away chicken drumstick+rendang+sayur+nasi, kl tdk salah dulu msh sktr 5-6 dollar.

7. KFC flemington
Kalo lg kepengen makan ayam goreng kfc yg halal yg terdekat dr city ada di racecourse road, naik tram 55.

8. McDonald’s Branswick East
Alamatnya di corner holmes street & albion street, dr city bisa naik tram 1. Saya biasa kesini kl lg pengen nyicip chicken burger. Di dekat kasir di tempel sertifikat halal plus daftar menu-nya. Cabang lainnya ada di daerah Preston.

9. Namaskar India
Lokasinya di daerah 104 Lygon street, Carlton, yg terkenal dgn deretan restoran2 italy dan cafe ice cream gelato. Menu2 curry n chicken tandori dgn roti prata menjadi sajian utama. Saya suka udang goreng tepung dan dessert roti tissue dgn cucuran susu kental manis. Yummyy…

10. Sahara Pizza
Dari nama-nya jelas sajian utamanya adalah macam2 pizza yg crispy serta kebab. Tapi sebenarnya kl sy mampir ke Sahara selalu beli cheesecake dgn toping stroberry saus yg super creamy apalagi ditemani secangkir latte. Dulu 1 slice msh sekitar $4,5. Selain cheesecake msh bnyk pilihan cake lainnya. Lokasi-nya di Sydney road, Brunswick. Dari elizabeth street (city) naik Tram 19 turun d stop 25. Di seberang Sahara Pizza jg terdapat masjid (di belakang toko buku/alat2 sholat)

Sebagai catatan: daerah Sydney road, Brunswick dan sekitarnya (north melbourne) terkenal sebagai salah satu daerah yg banyak dihuni imigram arab dan asia tenggara termasuk mahasiswa2 indonesia. Selain dekat dkn kampus unimelb juga bnyk terdapat restoran2 halal dan halal butcher (penjual daging).
Selain yang disebutkan di atas msh bnyk lagi restoran2 toko2 kue halal di sepanjang Sydney rd yg pernah sy coba, antara lain:
– Balhas pastry (turkish sweets), stop 28
– La Paella restaurant (marocco+spanish cuisine) di stop 20
– Kebab station di Coburg dan Kebab Town hall
– Tiba’s Lebanese restaurant

# donat crespy kreme di melbourne juga mengantongi sertifikat halal, ada di swanston street dan melbourne central

Info detail ttg halal restoran bisa dicek via http://www.halalsquare.com.au

Bon appetite! Halal itu membawa berkah ;-)


10 + 5 destinasi wisata di kota Melbourne

Baru nyadar tryt  selama  2 thn nge-blog di wordpress blm pernah nulis tentang panduan jalan2 n tempat2 menarik di kota Melbourne, kota terbesar kedua setelah Sydney. Tempat2 wisata yg bisa dikunjungi saya bagi dalam 2 katagori, pertama ‘Inner city Melbourne’ yg berada di pusat kota dan sekitarnya, bisa ditempuh dengan jalan kaki ato naik tram, train ato bus dengan tiket  myki. Dan yang kedua ‘Outer Melbourne‘ (Victoria) yang  at least perlu one day trip dengan naik Vline regional train/bus atau ikut paket tur wisata (seperti Extragreen Holidays) untuk sampai ke lokasi.

01. Federation Square + Flinders Station

Flinders station dan Feredation Square (Fed Square) bisa dibilang jantung kota Melbourne, terletak disudut jalan Swanston Street dan Flinders street, dan di tepi sungai Yarra. Station kereta yang bergaya France Renaissance ini merupakan stasiun tertua di Austalia (1910). Sebaliknya, Federation Square (2002) yang berada diseberangnya bergaya deconstructive architecture, berfungsi sebagai gedung pertemuan, pameran, visitor center, cafe  plus ruang publik tempat nongkrong warga kota dan pengunjung. Dua bangunan ini sekarang menjadi icon kota Melbourne dan public transport interchange, yang selalu ramai dikunjungi siang dan malam.

image
Flinders Station (c) Jilbabtraveler, 2008
Fed Square (c) Wikipedia, 2012

Fed Square (c) Wikipedia, 2012

02. Queen Victoria Market (Vicmart)

Pasar terbesar di kota Melbourne yang berada di Elizabeth Street, menjual segala macam kebutuhan sehari-hari dari sayuran, buah, bunga,  bakery, ikan, daging sampai baju, tas, mainan dan souvenir. Buka setiap hari dari jam 6 AM – 2 PM (weekdays) dan 4 PM (weekends), kecuali Senin dan Rabu tutup. Kalau mau berburu souvenir murah dan kaos Australia disinilah tempatnya, jangan heran kalo ketemu penjaga-nya bisa ngomong bahasa Indonesia, karena mayoritas mahasiswa Indonesia suka kerja sampingan di pasar ini.

hal yang paling sy suka kalo ke Vicmart, dengerin pertunjukan street musician dari Brazil yang suka manggung pas weekends, sambil menikmati secangkir coffee dan spanish donuts. Dan akhirnya, saking sukanya saya beli CD rekaman musik+lagu2 mereka.

victoria market (c) australiantraveller.com

victoria market (c) australiantraveller.com

street musician Vicmart (c) Jilbabtraveler, 2007

street musician Vicmart (c) Jilbabtraveler, 2007

03. City Circle Tram

Muter2 gratis keliling pusat kota Melbourne (hop on hop off) dengan tram tua sambil mendengarkan penjelasan2 mengenai bangunan dan tempat2 yang dilewati.  Tempat2 wisata utama seperti Fed Square, Flinders Station, Victoria Market, Docklands, Harbour front dilalui jalur tram ini.

City Circle Tram (c) Jilbabtraveler, 2008

City Circle Tram (c) Jilbabtraveler, 2008

Jalur tram City Circle

Jalur tram City Circle

04. Laneways + Arcades

Pusat kota Melbourne (CBD) berbentuk grid, dengan jalan2 utama yang bisa dilalui kendaraan bermotor dan tram menghadap utara-selatan (e.g. Swanston street) dan barat-timur (e.g. Bourke street). selain jalan2 utama ini, banyak sekalai terdapat gang-gang sempit yang menghubungkan satu blok bangunan dengan blok lainnya dan hanya bisa dilalui pejalan kaki dan sepeda, Gang2 sempit ini terkenal dengan sebutan Laneway atau arcade (interior). Banyak sekali, retail-retail, toko2 dan cafe2 unik , bar dan restaurant, gallery seni bahkan street arts yang berlokasi di jalur laneways ini, yang sering disebut sebagai Melbourne hidden gems. Bagi ada yang ingin mengenal suasana kota melbourne yang sebenarnya, disinilah tempatnya, semoga tidak kesasar ^_^ (untuk panduan silahkan lihat disini Laneways & Arcades)

Discover Melbourne Laneways (c) Jilbabtraveler, 2008

Discover Melbourne Laneways (c) Jilbabtraveler, 2008

05. Southbank + Yarra River

Yarra atau Birr-arrung, adalah sungai yang membelah kota Melbourne, lokasinya persis disamping Federation square/ Flinders station. Disepanjang Yarra dilakukan pembangunan besar2an fasilitas perkantoran, retail, casino, art center dan promedane tepi sungai, daerah ini terkenal dengan nama Southbank. Sekedar jalan-jalan santai sambil menikmati sungai di sore hari atau sabtu pagi merupakan aktivitas yang bisa dilakukan di sepanjang sungai Yarra. Selain itu sering juga ada pertunjukan para buskers (seniman jalanan) di sepanjang southbank. Persis di depat Crown casino, setiap jam 7 malam ada pertunjukan api, yang sering ditunggu2 para pengunjung. Kalau ingin merogoh kocek sekitar AUD$19.80 bisa menaiki City River Cruise menyusuri sungai Yarra selama 1 jam sambil menikmati secangkir kopi hangat for free.

Yarra rive nightscape (c) studyabroad.asu.edu

Yarra rive nightscape (c) studyabroad.asu.edu

06. Docklands + Harbour Front

Daerah muara sungai Yarra yang baru dikembangkan menjadi mixed-use development/ waterfront city terdapat hunian apartment, office, shopping area dan marina.

webb bridge + southern stars (c) Jilbabtraveler, 2008

webb bridge + southern stars (c) Jilbabtraveler, 2008

Melbourne Docklands (c) harbourescapeapartments.com.au

Melbourne Docklands (c) harbourescapeapartments.com.au

07. St.Kilda Beach + Sunday Art Market + Luna Park

St.Kilda Pier (c) Jilbabtraveler, 2008

St.Kilda Pier (c) Jilbabtraveler, 2008

Luna Park Melbourne (c) Jilbabtraveler, 2008

Luna Park Melbourne (c) Jilbabtraveler, 2008

08. Shrine of Remembrance + Royal Botanic Garden

shrine of rememberance (c) aila.org.au

shrine of rememberance (c) aila.org.au

09. Box Houses at Brighton Beach

Brighton beach (c) Jilbabtraveler, 2008

Brighton beach (c) Jilbabtraveler, 2008

10. Ceres Environment Parkhttp://www.ceres.org.au/
Bosan dgn hiruk pikuk keramaian kota dan pengen k tempat yg lebih alami sambil berekreasi edukatif bersama keluarga, Ceres bs mjd alternatif. Lokasinya mmg sedikit jauh sekitar 30 menit naik tram 96 menuju daerah East Brunswick. Taman ini mempromosikan sustainable ways of living dr bercocok tanam, energi alternatif, mengolah sampah sampai sanggar2 budaya dr manca negara termasuk Indonesian Village. Saat paling tepat berkunjung ke Ceres
ketika ada organic market n craft, biasanya setiap hr rabu dan sabtu. Disini juga ada tempat penjualan sepeda bekas dan bengkel dgn sistem swadaya alias cari spare part n alat yg diperlukan sendiri trus perbaiki sendiri ato dibantu sm bikers lain. Ada juga toko swalayan organik dan cafe yg buka setiap hari.

ceres organic market (c) homes.ninemsn.com.au

ceres organic market (c) homes.ninemsn.com.au

bike shed Ceres (c) permaculturevisions.com

bike shed Ceres (c) permaculturevisions.com

Outer Melbourne:
1. Sovereign Hill, Ballarat

image

Suasana Balarat (c) Jilbabtraveler, 2007

2. Mount Buller (winter sky resort)
image

3. Great Ocean Road
image

4. Tesselaar Tulip Festival
5. Mornington Peninsula


2012 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 2,600 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 4 years to get that many views.

Click here to see the complete report.


Cintaku di Barcelona

Boleh dikata saya jatuh hati (a.k.a penasaran) duluan dengan kota ini sebelum mengunjunginya, bukan karena lagu-nya Fariz RM atau Karya2 Antonio Gaudi yang membawa saya melangkah ke ibukota negeri Catalan ini, tapi lebih karena penasaran pengen melihat dan merasakan suasana ‘street view’ dari konsep tata kota octagonal block-nya (Cerda Plan) yang waktu kuliah dulu sering disebut2 sebagai salah satu yang terbaik. Dan juga cerita La Ramblas, sebuah pedestrian street yang selalu hidup siang dan malam dengan para seniman jalanan, plus geliat pembangunan kota Barcelona pasca Olimpiade 1992 dengan proyek2 revitalisasi yang mengispirasi banyak kota2 di dunia. Itinerary 2 hari 2 malam di Barcelona rasa-nya sangat singkat untuk sebuah kota yang menyimpan banyak cerita.

Aerial view of Barcelona with Avinguda diagonal

Day 01

Pagi itu setelah check in di Hostel Casa de Gracia, kami jalan2 santai mencari sarapan disepanjang Passeig de Gracia yang sebagian toko-tokonya masih tutup, jalan ini terkenal sebagai pusat perbelanjaan utama di jantung kota Barcelona menghubungkan Cerda Plan (new extension) dengan La Ramblas (old city), butik2 dan retail2 ternama berderet di kanan kiri jalan termasuk 2 masterpieces Gaudi yakni bangunan Casa Mila dan Casa Batllo.

Casa Batllo (1904-1906)

Setelah perut terisi, tujuan kami hari ini adalah mengunjungi karya fenomenal Gaudi, gereja La Sagrada Familia yang dari pertama dibangun (1882) sampai sekarang belum selesai juga alias still under construction! kembali kaki ini diayunkan menyusuri blok demi blok bangunan hingga berbelok ke arah Avinguda Diagonal yang rindang, bagian terpenting Cerda Plan dan avenue terbesar yang membelah kota Barcelona dari barat ke timur, dan berujung di Barcelona Forum (new waterfront and park).

Sekitar jam 11 pagi kami sampai di sagrada familia, rupanya antrian turis yang akan membeli tiket dan masuk ke dalam cathedral sudah cukup panjang ditambah lagi suasana sekitarnya yang penuh dengan alat2 berat dan bahan bangunan cukup crowded dan mengganggu keindahan karya artistik ini. I wasn’t really impressed…, but I agree the interior is amazing and worth to see. Note: entrance fee to basilica sagrada familia 13 euro, combined tickets to Gaudi House Museum at Park Guell 16,5 euro.

Sagrada Familia – inside and outside (c) Jilbabtraveler

Kembali ke hostel dan rehat sejenak untuk mandi dan sholat, sore itu jalan2 santai dilanjutkan dengan menjelajah pedestrian street La Ramblas yang di kiri kanan-nya dipenuhi deretan pepohonan, kios2 souvenir plus cafe dan alfresco dining yang menyajikan masakan seafood khas spanyol. Sepanjang jalan banyak ditemui para seniman jalanan dari sekedar atraksi kostum, pelukis, main musik, sulap dan lain-lain. A fact: rata2 (hampir semua) toko souvenir (non kiosk) di sepanjang Ramblas dimiliki oleh jaringan imigran India/pakistan/Banglades.

Plaça de Catalunya – entrance to La Ramblas, where old city meets new grid

street artists – La Ramblas

La Ramblas street life

Hari pertama di Barcelona, kami akhiri dengan bergegas menaiki metro dari station Liceu menuju station Plaça de Espana untuk menyaksikan pertunjukan The Magic Fountain of Montjuïc, atraksi air mancur yang disertai musik dan lighting, atraksi ini hanya berlangsung dari hari kamis – minggu mulai jam 9 – 11 malam (May to September schedule). Hari menjelang magrib disertai mendung dan rintik2 hujan, rupanya tidak menghalangi ribuan pengunjung untuk berbondong2 mencari spot paling strategis di sekitar area Palau Nacional ( National Museum).

Palau Nacional Barcelona

Magic Fountain of Montjuïc: lighting, music, colour and water acrobatic

Day 02

Agenda utama hari ini selain mengunjungi salah satu karya Gaudi, Park Guell, taman terbuka seluas 17 Ha dibangun thn 1900-1914, rencananya kami akan mengikuti free guided-walking tour mengelilingi kota tua Barcelona, daerah Barri Gotic. Sayang-nya ketika jam 16.00 kami tiba di meeting point Plaça Reial ternyata kuota 30 orang sudah penuh di booking, well..akhirnya berbekal peta di tangan walking tour kami lakukan sendiri as usual ;)

Barcelona kota yang cukup besar namun public transport dan infrastruktur pariwisata-nya sangat baik, meskipun tidak bisa bahasa spanyol, sistem penanda /informasi selalu disertai dengan bahasa inggris, selain itu turis ada dimana-mana, ya kalau nyasar tinggal tanya saja. Supaya lebih murah dan mudah kemana-mana belilah tiket metro T-10 zona 1 (most attractions) seharga €9.25, yang bisa dipakai 10 trips dan bisa dipakai line kereta ke airport juga, single journey cukup mahal €2/ trip. Dari station Diagonal kami menaiki metro (bawah tanah) menuju Park Guell – Line 3 (hijau) turun di station Lesseps. Untuk sampai di pintu gerbang Park Guell perlu jalan kaki sekitar 20 menit menaiki bukit El Carmel. Taman ini free of charge and as always penuh turis, dari puncak Park Guell bisa melihat kota Barcelona secara keseluruhan. Di area ini juga terdapat Gaudi House Museum, terdapat koleksi2 furniture karya Gaudi.

Park Guell – free entry!

The Gaudi House Museum – 5 euro entry

Ketika mengelilingi taman ini jadi teringat suasana kota Paris dan perjuangan para imigran2 yang bertahan hidup dengan menjadi pedagang kaki lima menjual souvenir, kaca mata dll. sempat terjadi insiden kejar2an oleh polisi setempat dan salah satu yang tertangkap barang dagangan-nya disita. Selain itu terdapat juga para seniman2 yang bermain musik (kalau yang ini sepertinya dianggap legal), ada satu seniman Indian dengan alat musik dan ritme lagu-nya yang cukup memukau membuat saya betah berlama-lama sekedar berdiam diri merasakan semilir angin dipuncak Park Guell.

PKL at Park Guell

Selesai dari Park Guell kami istirahat sholat dan makan siang (as always subway tuna!!), Jam 4 sore setelah dari Ramblas dilanjutkan berkeliling Old town Barcelona – Barri Gotic dengan berjalan kaki, dilanjutkan ke Barcelona waterfront (promenade  dengan pantai pasir dan deretan bangunan2 apartment, hotel dan shopping center, salah satunya ‘Barcelona Fish’ karya Frank Gehry).

  

                                                           Cathedral Barri Gotic

redevelopment project – santa Caterina market by Enric Miralles

Barcelona fish – waterfront

Hari itu cukup melelahkan dan hari terakhir kami di Spanyol sebelum besok pagi-nya kembali ke Belanda. Ada satu bangunan high rise yang ingin saya lihat karya Jean Nouvel+B720 Arquitectos yakni Gedung 38 lantai ‘Torre Agbar’ yang terletak antara Avinguda Diagonal dan Carrer Badajoz, saya cuma penasaran bagaimana ‘treatment’ desain ground floor bangunan ini bertemu dengan ruang publik disekitarnya. Otw balik ke hostel, kami turun di station metro Glories, sayangnya cuma bisa mengintip dari luar karena ini bangunan office private.

Torre Agbar – from outside

Day 03 – Tuesday

Jam 9 pagi  kami harus catch up pesawat dari El Prat airport Barcelona (BCN) menuju Schiphol Amsterdam menggunakan salah satu budget airlines milik Belanda yakni Transavia dengan tiket seharga €35 one way tanpa bagasi. Dibandingkan Ryanair, secara personal menurut sy kualitas  transavia lebih baik, selain itu kita masih diizinkan membawa 1 tas tangan/ tas kamera disamping backpack. Disamping memang ryanair tidak melayani rute2 dari dan menuju airport utama, melainkan berangkat dari airport kecil di Girona sekitar 1 jam perjalanan dari kota Barcelona. Dari hostel dengan sisa ticket metro T-10  kami menaiki Barcelona Airport Train (Renfe) dari station passeig de Gracia menuju  ‘Aeropuerto’  terminal T2 El Prat (end stop),waktu tempuh sekitar 25 mins. Well,…Gracias Espana!!

twice with transavia – Barcelona to Amsterdam // Venice Treviso to Amsterdam

our room at Casa Gracia Hostel €32 /night/ person – ensuite + breakfast


Menjelajah Negeri Matador

Sebelum lupa menggerogoti ingatan, saya coba menuliskan itinerary perjalanan di spanyol selama 6 hari pada bulan Juni 2012 kmrn dengan tujuan utama Cordoba, Granada dan Barcelona.

Kami (4 girls) memulai perjalanan dari Belanda, Persiapan dilakukan sekitar 1 bulan sebelum keberangkatan, dari booking tiket pesawat, kereta api, hotel dan tiket masuk Alhambra. Dibandingkan trip ke Jerman, Prancis, dan Ceko, trip ke Spanyol benar-benar ‘drive us crazy’ karena sistem keamanan per-bank-an (transaksi online) yang agak ribet, 2 kartu kredit Indonesia kami ditolak plus 1 kartu kredit Belanda juga. Untuk mendapatkan perjalanan dengan budget murah, biasanya transaksi online in advance akan lebih menguntungkan dibandingkan beli tiket dengan sistem Go Show atau beberapa hari sebelum keberangkatan. Ada 2 kota besar di spanyol yakni Madrid dan Barcelona yang memiliki cukup banyak network penerbangan murah ke negara-negara eropa, karena tujuan utama kami adalah ke Alhambra di Spanyol Selatan, maka titik awal perjalanan dipilih dari Madrid dan berakhir di Barcelona. Untuk menuju Granada ada juga alternatif penerbangan via Malaga.

Day 01. Eindhoven – Madrid

Perjalanan dimulai dengan budget airlines Ryanair dari Eindhoven. Rata-rata budget airline di eropa menggunakan airport2 kecil yang tersebar di daerah pinggiran seperti Eindhoven, Maastricht, Rotterdam/The Hague dan Groningen. Untuk penerbangan ke Spanyol saya berhasil mendapatkan tiket yang cukup murah seharga 20 euro (one-way tanpa bagasi+insurance) ke Madrid. Nama-nya ‘budget’ plus airport kecil pelayanan dan fasilitasnya berbeda dengan airport utama seperti Schiphol, at least sediakan waktu 2-3 jam sebelum jadwal keberangkatan sudah ada di airport untuk check in, pemeriksaan bagasi dan imigrasi serta antri. Perlu diperhatikan, penerbangan dengan Ryanair tanpa bagasi HANYA diperbolehkan membawa 1 tas cabin max.10 kg dengan ukuran tertentu, kalau ada tas tangan, tas kamera semua harus dimasukan jadi 1 tas, di airport akan dilakukan pemeriksaan oleh petugas. Dari Eindhoven Central Station tersedia public transport (bus 401) menuju airport yang berangkat setiap 10 menit dengan waktu tempuh 25 mins, sediakan koin 3 euro untuk beli tiket di dalam bus (ticket machine) atau bisa menggunakan OV-chipkaart.

Perjalanan Eindhoven-Madrid ditempuh dalam waktu 2 jam 40 mins, mendarat di terminal T1 Madrid Barajas Airport yang terletak 7 km dari pusat kota. Sebelumnya kami sudah booking Hotel (€52/room/2 person-ensuite) di dekat Atocha Train Station, station utama yg melayani rute2 train antar kota di spanyol. Di madrid kami cuma transit 1 malam sebelum besok pagi-nya melanjutkan perjalanan dengan kereta ke Cordoba. Dari terminal T1 menuju Atocha Renfe tersedia shuttle bus 24 hours – Expres Aeropuerto waktu tempuh normal 40 mins, tiket langsung beli ke bus driver seharga 5 euro (2012).

Waktu transit yang singkat kami gunakan untuk melihat-lihat jantung kota madrid di malam hari yakni Plaza Mayor dan area komersial di Sol sambil menikmati makan malam khas spanyol La Paella (a.k.a nasi goreng seafood), syukurnya di Madrid toko-toko buka sampai jam 9-10 malam (summer) termasuk juga tempat makan yang masih banyak dipadati pengunjung sampai jam 12 malam. Public transport di Madrid cukup terpercaya: mudah, aman dan bersih.  Dari depan hostel kami cukup menggunakan metro menuju station Puerta de Sol (2 stop) dengan tiket seharga €1,5 one way beli di mesin dengan koin atau uang kertas.

Berburu official Real Madrid T-Shirt at Sol (c)Jilbabtraveler

Day 02. Madrid-Cordoba

Berhubung kartu kredit kami ditolak untuk membeli tiket kereta online  di website RENFE dan mencoba via vendor lain seperti Rail Europe dan TGV  juga gagal, satu-satunya cara adalah beli langsung di loket secara cash! dengan resiko tidak mendapatkan harga promo seperti yang tersedia online. Untungnya jadwal kereta cepat ke Cordoba ada setiap 1 jam sekali, dimulai dari jam 6.30 AM sehingga tidak perlu khawatir kehabisan tiket. hari pertama tiba di Atocha station Madrid kami langsung membeli tiket di loket renfe, dengan berbekal info harga yang kami liat online Alhamdulillah tryt msh bisa mendapatkan tiket promo kelas turista untuk 4 orang  dengan harga €35/org, bayangkan saja kalau sudah habis bisa-bisa kami harus merogoh kocek €50- €70 per orang untuk menuju Cordoba Central dengan jarak tempuh 1 jam 42 mins. Bagaimana pusing-nya booking tiket kereta online di spanyol dan apa saja tips-nya, saya sarankan untuk membaca penjelasan di website tripadvisor ini terlebih dahulu.

Kereta Cepat Renfe menuju kota Cordoba

Sekitar jam 10 pagi akhirnya tiba di Cordoba Central, disini kami hanya stopover selama 5 jam untuk mengunjungi Mezquita dan Historic town Cordoba, pusat peradaban Islam di Barat pada abad ke-10 dan 11. Di Cordoba central kami menitipkan backpack dan barang2 bawaan di loker atau consigna dalam bahasa spanyol yang bisa disewa selama 12 jam (kalau tidak salah harganya berkisar €3-6 tergantung ukurannya dan ada petugas yang akan membantu kita). Dari station kita bisa jalan kaki sekitar 30 menit menuju historic town atau bisa juga naik bis, berhubung cuaca cukup bersahabat dan kota-nya cukup nyaman kami memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri boulevard botanical garden yang mengarah ke Mezquita-Cathedral di tepi sungai Guadalquivir.

Untuk masuk kompleks Mezquita-Cathedral (masjid yang sekarang menjadi katedral) pengunjung diharuskan membeli tiket seharga €8/orang waktu kunjungan 10 AM – 7 PM (maret – oktober). Jika tertarik dengan sejarah Cordoba, sambil mengelilingi mezquita kita bisa menyewa audioguide sebesar €6 atau menyewa local guide kalau tidak salah tarifnya sekitar €30/ 2 hours.

Day 02. Cordoba – Granada

Setelah berkeliling historic town Cordoba dan menyempatkan sholat zuhur di sebuah masjid disana, kami kembali ke stasiun sambil beristirahat dan mengambil barang2 di loker. Sore itu perjalanan dilanjutkan ke Granada, ada dua alternatif transport yang bisa digunakan yaitu kereta dan bis, dengan waktu tempuh yang relatif sama kereta lebih mahal sekitar €50/orang, dan bis hanya €16 /orang (2 jam 45 mins) dan tersedia 8x trip per hari (kereta cepat hanya 4x). Tiket bus sudah dibooking jauh-jauh hari via website ALSA atau kalau tidak berhasil bisa coba via Movelia . Jangan lupa untuk mem-print tiket dan membawanya, stasiun bus tepat berada di seberang stasiun kereta Cordoba Central, 30 mins sebelum jadwal kami sudah berada di ruang tunggu bus sambil menikmati makan siang standard Subway Tuna, sebelumnya mengecek jadwal dan lokasi feron untuk tujuan ke Granada. Di tiket sudah tertulis nomer tempat duduk sesuai pilihan kita ketika booking online, ketika akan naik seorang petugas dengan jaket bus ALSA akan mengecek tiket yang sudah kita print dan mempersilahkan kita untuk menaruh barang di bagasi bus. Jam 15.30 sore kami meninggalkan Cordoba dan tiba di stasiun bus Granada di Carretera de Jaen sekitar jam 6 sore yang terletak sekitar 15 menit naik bus dari pusat kota Granada.

Berbekal alamat dan peta hotel yang sudah kami booking via Hostelworld, dari depan stasiun bus di de Jaen kami menaiki minibus nomer 33 (atau 3) menuju area Gran Via de Colon. sempat kebingungan mau turun di halte mana, untungnya ada penduduk lokal yang bisa berbahasa inggris dan mengerti alamat yang kami tuju, akhirnya kami disarankan turun di halte bus Gran Via 3 dari sana tinggal jalan kaki sekitar 5 menit. Kami menginap di Itinere Hostel dengan tarif  €44/room/ 2 person – ensuite, included breakfast), lokasinya cukup strategis di pinggir jalan utama yang dilalui shuttle bus menuju Plaza Nueva, Albaycin, dan Alhambra; serta cukup jalan kaki 10 mins ke pusat komersial di sekitar Catedral Granada dan plaza de Isabel.

Setelah check in hotel, sore itu (8-10 PM) kami habiskan untuk jalan2 di pusat kota Granada melihat2 toko souvenir sekitar Cathedral dan area Alcaiceria, sejenis bazar dengan deretan toko2 di dalam gang kecil yang umumnya menjual barang2 khas maroko dan Granada. Di sekitar Plaza Nueva yang banyak terdapat deretan restoran dan cafe, Alhamdulillah kami menemukan tempat makan halal yang menjual kebab plus kentang goreng, menu standar backpacking di eropa ;-)

deretan toko souvenir – near plaza nueva

Day 03. Alhambra, Granada

Agenda utama hari ini adalah mengunjungi Istana Alhambra dan Taman Generalife serta Albaycin (Moorish Neighborhood). Tiket masuk  sudah dibeli online 3 minggu in advance via ticketmaster seharga €13,40/ orang. Jumlah visitor per hari yang diperbolehkan mengunjungi Alhambra sangat dibatasi sehingga waktu kunjungan dibuat beberapa slot: morning, afternoon & evening. If you won’t be upset, don’t be dare to come without booked tickets in your hands!  Ketika booking tickets, slot waktu yang tersisa hanya ada di afternoonjam 14.00 PM. Oiya, jangan lupa membawa kartu kredit yang digunakan ketika booking ticket, karena ketika tiba di Alhambra kita perlu me-print tiket di mesin yang sudah tersedia dengan menggunakan kartu kredit tsb. Info detail baca disini buy Alhambra tickets

Meskipun kota kecil, namun transportasi publik di Granada sangat baik, berhubung akses ke Albaycin dan Alhambra hanya berupa jalan kecil yang berliuk-liuk plus menanjak ke atas bukit, untuk memudahkan maka angkutan yang digunakan berupa minibus/ van dengan kapasitas 10 orang. Tiket minibus bisa langsung dibeli melalui driver €1,20/ one way atau kalau mau hemat bisa beli tiket jenis Bono (Bus Pass), one way terhitung cm 80 cent, 1 kartu bisa digunakan 4 org, kalau habis credit bisa di top up, ketika sdh tidak digunakan lagi bisa dikembalikan ke driver dan dapat cash back  €2

minibus 30 to Alhambra – get on from halte Gran via 1 (in front of Cathedral)

Berbekal informasi dan peta dari resepsionist Itenere Hostel yang sangat friendly, pagi itu setelah sarapan kami memulai perjalanan dengan mengunjungi Albaycin, sebuah perkampungan khas bangsa Moor yang terletak di atas bukit. Tujuan utama adalah area Mirador san de Nicola – ruang terbuka di depan Cathedral, dari sana kita bisa melihat kemegahan Istana Alhambra  secara keseluruhan yang berdiri di puncak bukit Asabica. Selain itu, persis di samping Mirador san nicola terdapat Mezquita Mayor de Granada, Masjid besar Granada nan teduh lagi indah, tempat melepas lelah dan menunaikan sholat tahyatul masjid 2 rakaat. Untuk menuju Albaycin kami menggunakan minibus 31 dari halte dpn hostle (Gran via de colon 3). untuk saving energi, pulangnya menuruni bukit Albaycin kami memilih menggunakan bus yang sama dengan arah menuju Plaza Nueva, sambil beristirahat dan mencari makan siang sebelum melanjutkan kunjungan ke Alhambra.

Untuk menuju Alhambra bisa dengan shortcut jalan kaki (tapi hiking) dari Plaza Nueva atau menggunakan minibus 30, naik dari depan Cathedral (Jalan Gran via de colon) sekitar 15 menit. Jam 1 siang kami sudah tiba di Alhambra, antri sebentar di mesin tiket dan siap2 antri memasuki Alhambra slot afternoon yang dibuka jam 2 siang. Ada 3 bagian penting di dalam komplek istana Alhambra yang wajib dikunjungi yaitu Taman Generalife, Nasrid Palace dan benteng Alcazaba, at least sediakan waktu 3-6 jam untuk bisa mengeksplorasi plus menikmati seluruh tempat dan jangan lupa membawa air minum. Perlu diperhatikan, bagian paling utama adalah Nasrid Palace, setiap pengunjung menadapat slot waktu yang telah ditentukan di tiket untuk bisa masuk, diluar waktu tsb atau telat datang tidak diperbolehkan lagi. Kunjungan kami dimulai dari Taman Generalife diteruskan ke Nasrid Palace (16.00 pm) dan berakhir di Alcazaba. There’s no words  I can say, except Subhanallah, Alhamdulillah and AllahuAkbar  – a truly heaven on the earth…

Map of Alhambra

Selesai dari Alhambra, kami kembali ke Hostel untuk beristirahat, sholat dan mengambil backpacks (Again, thanks a bunch Itenere hostel) sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta malam (tren hotel) menuju Barcelona, berangkat dari Granada Central jam 10 malam dan tiba di Barcelona Sants (main station) sekitar jam 09.30 pagi. Harga tiket tren hotel ini bisa dibilang mahal yakni €92/org (kalo beli lebih awal bs saja dpt tiket seharga €65), tapi selain bisa saving waktu di jalan, juga saving biaya hotel satu malam. Keretanya sangat nyaman dan aman, 1 compatment/kamar terdiri 4 bed (jadi bisa tidur selonjoran atau duduk) dan bisa dikunci, terdapat juga wastafel kecil, dapet paket anduk+odol+sikat gigi, plus hanger untuk gantung jaket, dan juga selimut. Toilet dan shower terdapat diujung gerbong, ada juga cafetaria kalau mau beli kopi, teh, sandwich ato muffin dan snack lainnya. So, for the price it’s worth enough…dibandingkan kereta malam Utrecht-Prague yang isi 6 bed, tren hotel ini lebih baik. Kmrn kami booking ticket online via TGV, karena tdk berhasil via renfe, print out tiket dikirim via pos ke Leiden (Belanda) sampai dalam 1 minggu.

inside trenhotel, off to Barcelona

Next, Cintaku di Barcelona,…ekskursi Gaudi’s!

Lokasi ITENERE Hostel at Gran via de Colon

Lokasi ITENERE Hostel at Gran via de Colon


Andalusia: the journey to the light

Cordoba-Granada, 01 Juni 2012

Jum’at Mubarak, hari yang penuh berkah, sebuah syukur yang tak terhingga…

   Image

View to Bukit Asabica where Alhambra stand out, seen from Albaycin @Jilbabtraveler

Sebuah perjalanan mimpi yang dirangkai sejak dibangku SMA di Banjarmasin sampai akhirnya terwujud di tahun 2012. Tak tahu mengapa, Cordoba dan Granada sepertinya memiliki magnet yang begitu kuat yang membuatku ber-azam untuk suatu saat berada disana dan menyaksikan sendiri sisa-sisa kejayaan Islam di bumi Andalusia. Kota yang pernah berbalut seribu cahaya dan taman surga yang hilang…

Episode 1: Masih terekam di dalam ingatan, setiap lonceng istirahat kedua berbunyi aku lari menuju perpustakaan sekolah bergegas mengambil buku tua bersampul hitam yang tebalnya kira-kira 5 cm yang kalau tidak salah berjudul Dunia Islam Baru. Entah siapa pengarangnya, namun yang jelas buku itu sangat menarik perhatianku, disana awal mulanya aku mengetahui tentang seluk beluk sejarah peradaban Islam, cerita perang salib sampai bagaimana Islam pernah menjadi ‘Cahaya’ di bumi Eropa selama ratusan tahun.

Episode 2: Semasa kuliah di Bandung (1998an) hobi bacaku semakin tersalurkan, kalau tidak salah ada 1-2 buku tentang sejarah Islam yang aku baca lebih detail khususnya tentang ilmuwan-ilmuwan muslim dan sumbangsihnya dalam peradaban modern di bidang kedokteran, astronomi, matematika dan lain-lain. Disinilah aku mengetahui tentang cerita kota Bagdad dengan perpustakaannya yang terkenal serta bagaimana Islam bisa masuk ke Eropa melalui selat Gibraltar di afrika utara hingga Spanyol selatan sampai akhirnya berdirinya kota Cordoba sebagai pusat Ilmu pengetahuan di dunia barat. Di jaman kuliah ini pula aku mulai mengenal internet dan membuat account email pertamaku, can you guess? alamat emailnya adalah cordoba@plasa.com dengan password alhambra ;) yup, istana merah – kediaman sultan di kota granada.

Episode 3: Semester pertama di Melbourne University (2007), tiap kamis siang aku bela-belain datang lebih awal untuk bisa duduk di area depan kuliahnya Profesor Jeremy Pike, History of Landscape Architecture.  kuliahnya berlangsung 3 jam, sesi pertama akan diisi penjelasan teori, dengan gaya-nya yang slow sambil membaca handout kuliah akan sangat sulit di siang bolong untuk bisa menahan rasa kantuk setelah makan siang,..hoaammmm. Sesi kedua, saat yang selalu ditunggu karena inilah sesi slide show, dimana Profesor Pike akan menunjukan foto-foto hasil jalan-jalannya keliling dunia mengunjungi taman-taman, public open space, estate garden sambil memberi penjelasan terkait sejarah dan konsep-konsep perancangan lansekap yang mempengaruhinya. Sampailah di pertemuan ke-5 The Garden of Islam, dimana sejarah dan penjelasan tentang Alhambra, Generalife, Taj Mahal dipaparkan. Perumpamaan surga yang diaplikasikan dalam desain taman Generalife di Istana Alhambra sungguh membuatku terpesona akan keindahannya. Kembali hati ini berbisik, Ya Allah semoga suatu saat nanti aku bisa berada disana…# mata kuliah ini adalah mata kuliahku dengan nilai terjelek yang didapat selama kuliah S2 yaitu H3 (=65), tapi melahirkan sebuah impian baru untuk bisa melihat satu-satunya moorish islamic garden yang tersisa di dunia saat ini.

flowerbed at Generalif Alhambra @Jilbabtraveler

Interior Mezquita-Cathedral di Cordoba @Jilbabtraveler

Episode 4: Januari 2012 akhirnya mendapat kepastian untuk kembali ke Belanda selama 5 bulan. Sebelum berangkat tidak sengaja liat di tayangan TV liputan acara bedah buku Amien Rais yang dikarang putrinya sendiri Hanum Salsabiela Rais, pada saat bersamaan dilaunching kan juga satu buku karyanya yang berjudul “99 Cahaya di Langit Eropa”, perjalanan menapak jejak Islam di Eropa. Dengan bantuan teman di jogja buku ini bisa didapatkan dan dititipkan via suaminya untuk bertemu di surabaya (Makasihhhh Bu Ira dan Pak Bani ^_^). Buku ini menemani perjalanan panjangku dari Banjarmasin-Jakarta-Kuala Lumpur-Amsterdam-Leiden-Groningen. Sebuah perjalanan yang diniatkan agar memberi nilai lebih tidak hanya sebagai student dan turis biasa, namun bisa mengenal Islam lebih baik lagi.

Akhir April, dalam perjalanan pulang dari Praha, berbincang-bincang dengan teman-teman yang selama ini menjadi partner in crime jalan-jalan, belum ada kepastian dari mereka apakah jadi ke spanyol atau tidak. Waktu stay di Belanda tinggal 2 bulan lagi berarti kalau jadi ke spanyol harus segera booking tiket pesawat, dalam pikiran terlintas bisa jadi ini kesempatan terakhir ke eropa, sempat terucap jika teman-teman tidak ada yang berminat maka aku akan berangkat sendiri. Keputusan ke spanyol agak sulit diambil, karena kami terancam jalan-jalan tanpa bodyguard yang selama ini selalu ada plus kondisi dompet yg mulai menipis ;)…belum lagi kekhawatiran yang cukup tinggi tentang kondisi spanyol saat itu dengan tingkat pengangguran yang mencapai 20%, artinya akan banyak tindak kriminal terjadi terhadap turis-turis asing. Kami langsung terbayang suasana daerah Gare du Nord di kota Paris. Setelah banyak mencari informasi, dan hasil negosiasi yang panjang akhirnya kami berempat sepakat jadi jalan-jalan ke Spanyol dengan mencoba rute Ryanair melalui Airport Eindhoven. Pengalaman pertama menggunakan budget airlines eropa.

Kamis 31 Mei 2012, “Terinspirasi dr buku-nya Hanum Salsabiela Rais – 99 Cahaya di Langit Eropa, chapter 3, Bismillah…” (a big thank for the thumbs my backpacking guru)

It’s truly our best euro trip, Alhamdulillah dengan rahmat-Nya perjalanan berlangsung lancar penuh cerita hikmah, kami bertemu dan berkenalan dengan banyak orang-orang yang ramah dari berbagai penjuru dunia. Dari solo korean traveler, seorang bule Prancis di hostel Granada dgn pertanyaan2 hidayah-nya, sepasang pensiunan dosen dari Kanada yang ketika melihat kami serasa mengingat masa muda mereka dulu, bertemu turis muslim dari Jerman di Alhambra serta mahasiswa-mahasiswa dari Malaysia, sampai bapak bule yang ternyata kerja di EY Jakarta.

Epilog: 29 Agustus 2012, whatsApp-an sm itha

me: “Ta skrg pk jilbab ya? Liat di foto nikahan kamtor..Alhamdulillah :)”

itha: “Hehe journey to the light mba ;)”

______

Cc:

Idha, Lia, Itha – the journey won’t be such wonderful without your presence ;-)

Mbak laksmi – thanks for all the info and travel guidance in Spain! dari booking tiket renfe sp siesta time…

ImageTaman Generalife Alhambra : from sketch (2007) into reality (2012) @Jilbabtraveler


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.