Anno 1925 dan Siring Tendean

Published on Banjarmasin Post, Senin 2 November 2009

Setiap kali lewat di depan Sabilal dan menyaksikan proyek pembangunan siring Tendean selalu bertanya-tanya dalam hati apakah kali ini bangunan tua renta itu akan kalah oleh derasnya arus ‘modernisasi’ pembangunan, yang selalu salah kaprah dengan mengindahkan kekhasan lokal dan harmoni dengan lingkungan. Seperti halnya nasib beberapa bangunan bersejarah dengan gaya arsitektur Indische (Kolonial) dan rumah-rumah traditional Banjar lainnya yang sudah lebih dulu lenyap dari khasanah ragam arsitektur Bumi Antasari ini.

Dua buah rumah tradisional Banjar yang ada di proyek siring Tendean, yang salah satunya bertuliskan Anno 1925, tidak saja khas dari segi ornamennya seperti dikutip dalam artikel ‘Ornamen Banjar Luluhkan Hati Yudhi’ (Bpost, Sabtu 24 Oktober 2009), tapi juga termasuk tipologi bangunan rumah Banjar tipe Palimasan 2 lantai yang masih tersisa saat ini dan sudah jarang sekali bisa ditemukan di Kota Banjarmasin. Selain itu dilihat dari konteks tempat dimana bangunan itu berdiri seakan mewakili sebuah kearifan nenek moyang kita dalam ber-arsitektur dengan merancang rumah panggung 2 façade, merespon pasang surut air sungai dan iklim tropis serta budaya lokal (kehidupan tepi air). Jika ditanya apa yang khas dari Kota Banjarmasin? Apa yang membuat turis lokal maupun mancanegara tertarik untuk berkunjung ke kota ini? Tak lain dan tak bukan adalah kekhasan budaya kehidupan seribu sungai dan arsitektur tradisionalnya.

Di awal era globalisasi, hampir semua kota bisa dikatakan memiliki wajah yang hampir sama dengan gaya arsitektur modernnya dilengkapi jendela-jendela kaca (curtain wall) dan bangunan kotak pencakar langit. Namun saat ini paradigma perencanaan kota sudah mulai berubah, ada sebuah kesadaraan kolektif dari kota-kota di dunia untuk tampil berbeda, lain dari yang lain, yang direpresentasikan dalam bentuk lingkungan binaan. Ada yang tampil dengan bangunan-bangunan iconic kontemporer seperti Guggenheim Museum Bilbao karya Frank Gehry di Spanyol, namun ada pula yang mencoba mempertahankan bangunan dan kawasan bersejarah dengan arsitektur lokalnya yang khas, ataupun menggabungkan kedua-nya dengan pendekatan adaptive reuse dan infill development.

Gerakan konservasi ini tidak hanya ditujukan untuk menarik devisa asing, namun lebih dari itu untuk menciptakan sense of belonging – perasaan kepemilikan dan kebangaan dari warga kota terhadap lingkungannya dengan terus memelihara keterikatan dengan budaya dan sejarah. Dari rasa kepemilikan ini diharapkan akan timbul rasa tanggung jawab, rasa sayang untuk memelihara dan meningkatkan kualitas kotanya.

Singapura, dengan pembangunannya yang begitu pesat, di awal tahun 60-an sempat menghancurkan hampir sebagian besar arsitektur dan kawasan bersejarahnya yang bercirikan deretan shop houses atau rumah toko dengan arcade pejalan kaki yang menerus. Kawasan ini dulunya identik dengan permukiman kumuh, kemudian berganti dengan bangunan-bangunan beton pencakar langit dan apartemen (HDB housing), namun apa jadinya kemudian? jumlah turis yang berkunjung menurun drastis.

Untunglah di tahun 1980an, muncul kesadaran untuk membangun sebuah identitas sebagai salah satu kota Asia yang ‘Uniquely Singapore’ dengan melestarikan bangunan dan kawasan bersejarah dengan karakter arsitektur dan aktivitas masyarakat multietnis yang unik seperti Little India, Chinatown dan Kampong Glam. Dengan konsep perencanaan kota yang integral dan dilengkapi rencana detail, bangunan-bangunan lama dan bersejarah direnovasi dan dialihfungsikan menjadi restauran, café, kantor, dan fungsi publik lainnya (adaptive reuse) yang menunjang vitalitas kawasan tersebut. Disamping itu bangunan baru bisa berdiri berdampingan secara harmonis  dengan bangunan lama tanpa harus merobohkannya (infill development).

Kasus si Anno 1925 dan siring Tendean bisa menjadi kasus perancangan kota yang sangat menarik dengan menggabungkan pendekatan pembangunan ruang publik kota dengan unsur-unsur budaya melalui pelestarian arsitektur tradisional Banjar dan budaya tepi sungai.  Ciri-ciri ruang publik yang berhasil adalah apabila semua warga kota tua, muda dan anak-anak dari berbagai latar belakang bisa mengakses dan menikmati ruang tersebut untuk berbagai aktifitas dengan nyaman, sehingga tercipta interaksi sosial. Selain itu ruang publik tersebut juga aktif digunakan secara kontinyu siang dan malam baik pada hari kerja maupun akhir pekan. Oleh sebab itu sering kali perancangan ruang publik tidak hanya memperhatikan segi desain fisiknya saja tapi juga memikirkan tentang program, yang salah satunya adalah dengan membangun fasilatas-fasilitas publik sebagai penunjang seperti perpustakaan, kantor pos, taman bermain, restauran, internet café dan lain-lain. Sehingga dengan keberadaan pengguna yang terus-menerus akan mengurangi tindak kriminal dan vandalisme terhadap fasilitas publik (natural surveillance).

Sayembara Pengembangan Desain dan Konsep Kota Banjarmasin Berbasis Sungai telah melahirkan konsep dan gagasan yang cemerlang tentang perencanaan kota kedepannya dengan menekankan pada isu pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Dimana salah satu unsurnya adalah mengakomodasi keberlanjutan budaya lokal dari generasi ke generasi dan teraspirasinya kebutuhan masyarakat setempat (participatory planning). Semoga status si Anno 1925 dan temannya tidak hanya ‘menunda pembongkaran’ tapi memang benar-benar ‘tidak dibongkar’.

Semoga tidak lama lagi bisa menikmati secangkir Cappucino ditemani sebuah buku dan iPod duduk di teras tepi sungai Cafe de Anno 1925 sambil menyaksikan anak-anak yang tertawa riang bermain dibawah rindangnya pepohonan dan hilar-mudiknya perahu di sungai Martapura yang sibuk mengangkut dan menurunkan penumpang di dermaga baru yang telah diintegrasikan dengan promenade dan transportasi umum. Semoga ini bukan hanya mimpi…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: