Jalan Singkat Menuju Tembok Cina

view from a tower

Kenapa bisa nyampe ke Cina (dengan biaya almost gratiss!) ceritanya panjang, tp simply speaking DIA punya rencana-Nya sendiri, terselamatkan oleh sebuah reply email di menit2 terakhir dari supervisor  “if you want, you are in – LAST MOMENT” dan dr ILO  “IDP has approved your extension” Alhamdulillah😀

Sejujurnya saya bukanlah seorang backpacker sejati apalagi executive traveler, tp kl diminta pilih jalan2 dengan guided tour via travel agent atau jalan2 sendiri dgn berandalkan peta, tanya2 dan rame2 sm teman, tentunya pilihan yg kedua lebih menyenangkan. Berhubung tujuan utama 2 minggu di Beijing adalah untuk fieldwork dengan jadwal yang sangat padat siang dan malam, jadilah mengunjungi tempat2 wisata dilakukan disela-sela  kesibukan survey dan studio, alhamdulillah pd suatu weekend perjalanan ke tembok Cina yang letaknya lumayan jauh di sebelah utara pusat kota Beijing terwujud juga .Tembok Cina dengan panjang hampir 6.700km ini ternyata hanya memiliki 3 segment utama yang bisa diakses para turis yaitu Badaling, Mutianyu dan Simantai.  Badaling merupakan segment yang best-preserved and reconstructed sehingga banyak dikunjungi turis especially weekend; Mutianyu dan Simantai tidak terlalu touristy karena letaknya yg lebih jauh tapi kondisi temboknya lebih alami, sebagian besar reruntuhan tembok dibiarkan apa adanya  dan pemandangan alamnya (katanya) lebih menakjubkan. ketika tiba di stasiun bus akhirnya kami memutuskan untuk menuju Simantai…

Hari itu pagi2 kami bela2in bangun lebih awal, berangkat dr hotel jam 7 pagi (biasanya br bangun j 9😉. Bagi kita yg tidak punya kendaraan pribadi, cara termudah adalah ikut paket bus wisata, berangkat jam 8.30 dr Dongzhimen bus station. paket ini sudah termasuk pp Beijing-Simantai + entrance ticket (total harganya sekitar RMB100 – lupa2 ingat^^). Perjalanan Beijing ke Simantai memakan waktu kurang lebih 3 jam dengan Bus, sepanjang jalan kami banyak menemui perkebunan buah Peach dan pedagang buah di pinggir jalan,  jeda beberapa menit yang diberikan sopir bus kami gunakan untuk membeli buah yang sangat segar ini, apalagi pada saat itu di Beijing lagi musim panas. Setibanya di Simantai, tepatnya di tempat parkir yang berada di jauh di kaki tembok Cina, Tour Leader dari Bus wisata ini langsung mengajak kami menuju entrance utama melewati petugas pemeriksaan tiket. Setelah itu setiap orang dilepas untuk berkeliling sendiri dan diberi waktu kurang lebih 3 jam untuk kembali lagi ke tempat parkir bus. Kami sempat menghela napas panjang memikirkan bagaimana cara-nya mencapai tembok cina yang jauh berada di atas sana dengan jarak puluhan kilometer. setelah melihat peta dan bertanya sana-sini katanya diperlukan paling tidak 3 jam jika mau mendaki atau berjalan kaki mengikuti rute menuju puncak, dengan keterbatasan waktu hal itu mustahil kami lakukan  apalagi di tengah terik matahari summer 35 derajat.  Alhamdulillah ternyata pengelola tempat wisata ini mempersiapkan juga  infrastruktur alternatif meskipun pengunjung dikenakan biaya yang tidak murah, tapi cukup menghemat waktu dan tenaga.

mode 1 – Cable car (RMB20)

Rute pertama dimulai dari area parkir, kami menaiki kereta gantung yang bisa diisi sktr 2-3 orang menuju kaki bukit, selanjutnya ada dua pilihan bisa mendaki atau menaiki sejenis kereta api yang bergerak mundur, akhirnya kami memilih menggunakan mini train ini. Barulah kami tiba persis di kaki tembok Cina yang tinggi menjulang ini…eitttt perjalanan belum selesai, ternyata masih ada ratusan anak tangga yang harus kami lalui untuk sampai ke puncak dan tidak ada alternatif lain, dengan terengah-engah dan sesekali beristirahat, perjuangan akhirnya terbayar juga ketika kami berhasil berdiri di atas tembok Cina yang meliuk-liuk diantara bebukitan nan hijau dengan segala kemegahan dan sejarahnya yang melagenda.

mode 2 – mini train RMB15)

mode 3 – hiking !goshhh…

all the way walk! hike! and walk! 14 towers

Bagi yang tidak memiliki kondisi fisik yang kuat rada sulit untuk melewati rute Simantai ini, karena untuk menelusuri tembok ini dari satu tower ke tower berikutnya ternyata jalannya tidak rata, tapi turun naik melewati ratusan anak tangga yang ukurannya tidak sama, cukup melelahkan..tapi Subhanallah pemandangan dan pengalaman adalah something priceless. Dua orang teman kami memutuskan untuk menunggu di salah satu tower sedangkan yang lain terus berjalan menyusuri setiap jengkal tembok ini. Saya menemukan banyak penduduk lokal bahkan yang sudah berusia lanjut berjualan souvenir dan air minum di atas tembok Cina, sempat terpikir betapa kuatnya mereka setiap hari harus mendaki dan menuruni tembok ini, tapi memang mereka bisa menjual dengan harga yang lebih mahal, misalnya saja air aqua yang di beijing hanya seharga 2 RMB di atas tembok Cina bisa menjadi 7 RMB😉

mode 4 – Zip lining, the fastest way to go down! (RMB40+boat)

Sudah cukup menjelajah  tembok besar cina sekitar 2 jam plus kehabisan energi dan kehausan, kami kebingungan memikirkan jalan pulang…sebenarnya lebih pada memikirkan beratnya rute yang harus ditempuh meskipun hanya menuruni ratusan anak tangga dan sedikit hiking tapi tetap saja semua itu sangat menguras tenaga. setelah beberapa saat berjalan ke arah bukit (tembok) yang menurun kami menemukan moda transport alternatif yang sungguh menantang adrenalin. Saya sempat ragu untuk mengambil alternatif ini, tapi sepertinya tidak ada pilihan lain kami harus segera menuju tempat parkir bus, semua teman-teman sepakat untuk menggunakan moda tali gantung ini ato terkenal dengan sebutan FLYING FOX untuk menuruni tembok Cina. Kaki saya sempat gemetar dan perasaan tak karuan, meskipun sebelumnya ketika outbond di Bandung sudah pernah mencoba flying fox tapi tidak dalam kondisi se-ekstrim ini. Syukurnya untuk menjaga kestabilan ketika berayun, setiap trip dilakukan tandem 2 orang, at least hal ini mengurangi ketakutan yang saya bayangkan seandainya tiba-tiba jatuh atau tidak bisa mengendalikan situasi..huahhhh! I almost died at that moment :(….but Alhamdulilah It went smoothly and was so amazing, ternyata tidak semenakutkan bayangan saya hehe, kurang lebih 10 menit bergelantungan di tali sambil menutup mata dan sesekali membuka mata sambil berteriak sambil menyaksikan deretan pegunungan simantai dan samar-samar meninggalkan tembok cina di belakang kami mendarat di pinggir danau yang sdh ada seorang petugas yang akan membantu landing. Satu per satu teman-teman tiba dengan selamat dengan ekspresi muka yang bermacam-macam antara takut dan senang.

mode 5 – finale! rowing your boat…

Rupanya perjalanan belum selesai juga masih ada satu moda lagi yang akan mengantar kami menuju tempat parkir yaitu perahu bermotor melewati danau yang biru. Setelah tantangan adrenalin, fase terakhir rupanya sebuah cooling down menyusuri danau di kaki tembok besar simantai sambil sepoi-sepoi angin bertiup melepas semua ketegangan. Sesampai di dermaga,…satu-satunya yang kami lakukan adalah berlari mencari toilet sebelum akhirnya mengejar bus yang segera akan berangkat kembali ke Beijing. What a trip!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: